Situs Sunnah
QUR'AN

Kurikulum Tafsir Dasar Bagi Keluarga Muslim

KURIKULUM TAFSIR DASAR BAGI KELUARGA MUSLIM

Oleh

Ustadz Abu Minhal

Di antara karunia agung yang Allâh Azza wa Jalla limpahkan kepada umat Islam adalah diturunkannya Kitâbullâh, Al-Qur`ânil Karîm, yang berfungsi sebagai petunjuk, penyembuh dan cahaya bagi mereka. Sebagaimana terhadap nikmat-nikmat Allâh yang lain, seorang Mukmin akan mensyukuri anugerah Al-Qur`ân. Rasa syukurnya terungkap dengan mengimani Al-Qur`ân dan mengagungkannya, banyak-banyak membacanya, menghafal dan mentadabburinya, serta berusaha keras untuk memahami dengan mempelajarinya dan selanjutnya mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dua Golongan Manusia Terkait Al-Qur`ân

Allâh Azza wa Jalla telah mengabarkan bahwa respon manusia terhadap Al-Qur`an terbagi menjadi dua golongan. Golongan yang memperoleh manfaat dari Al-Qur`ân dan Al-Qur`ân menjadi hujjah (pembela) baginya di Hari Kiamat dan jalan menuju Allâh Azza wa Jalladan ridha-Nya. Sebagian lain, tidak mendapatkan manfaat dari Al-Qur`ân. Al-Qur`an pun tidak memberikan tambahan bagi dirinya kecuali dosa-dosa dan jarak yang kian jauh darinya. Dan pada Hari Kiamat, Al-Qur`ân menjadi penggugat dirinya. [1]

Peran Strategis Keluarga Muslim Dalam Menanamkan Pentingnya Memahami Al-Qur`ân

Untuk itu, umat Islam wajib memperhatikan fungsi Al-Qur`ân yang Allâh Azza wa Jalla turunkan ke tengah mereka. Fungsi mulia Al-Qur`ân untuk mengentaskan manusia dari kegelapan menuju kehidupan yang bercahaya dengan hidayah Allâh tidak mungkin terwujud kecuali dengan mengamalkan kandungan Al-Qur`ân dan berpegang-teguh dengan bimbingan-bimbingannya dalam seluruh aspek kehidupan. Dan pengamalan Al-Qur`ân juga mustahil tercapai sampai seseorang Mukmin dan Mukminah memahami teks-teks ayat Al-Qur`anil Karim.  Dan inilah yang sebenarnya disebut tilâwah haqqa tilâwatih, yang Allâh firmankan dalam ayat berikut:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barang siapa yang  ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. [Al-Baqarah/2:121]

Maksud ’membacanya dengan bacaan yang sebenarnya’ adalah mengikuti (ajaran)nya dengan sebaik-baiknya, sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu dan ‘Abdullâh bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhu.[2]

Maka, dalam rangka penanaman dan penekanan tentang pentingnya memahami Al-Qur`ân pada diri anak-anak yang nantinya akan menjadi generasi masa depan sehingga masa depan umat  Islam menjadi lebih baik, keluarga harus memainkan peran  strategisnya sejak  dini kepada anak-anak Muslim, sehingga mereka mencintai Kitâbullâh dan mengagungkannya, memahami ayat-ayat suci Al-Qur`ân dan mengamalkannya. Dengan demikian, anak-anak tidak sekedar bisa membaca Kitâbullâh dengan baik, namun juga mengetahui kandungannya sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Sebab, Allâh Azza wa Jalla telah mencela Ahlul Kitab karena mereka tidak memberikan perhatian besar terhadap kitab suci yang diturunkan kepada mereka.  Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. [Al-Baqarah/2:78].

 Dan salah satu makna firman Allah: (إِلَّا أَمَانِيَّ “kecuali dongengan bohong belaka” ) adalah  (mereka tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat) kecuali sekedar membacanya saja.[3]

Bila umat Islam yang memperoleh anugerah besar berupa kitab suci terbaik sikap mereka sama dengan sikap Ahlul Kitab terhadap kitab suci mereka, hanya sekedar tahu bacaannya, atau sekedar rutin membaca dan menghafalnya saja,  maka celaan yang terarah kepada umat Islam pun akan semakin besar. Semoga Allâh Azza wa Jalla permudah kita memahami Kitab-Nya. Amin.

Orang Tua Belajar Al-Qur`an Dan Mengajarkannya Kepada Anak-Anak

Kewajiban seorang ayah, sebagai kepala rumah tangga, bukan hanya berhubungan dengan pemenuhan nafkah jasmani bagi keluarganya. Akan tetapi, ia jugaberkewajiban membawa keluarga untuk mengerti perkara-perkara agama yang merekabutuhkan.

Imam al-Baihaqi (wafat tahun 458H)  rahimahullah mengatakan dalamal-Jâmi’ li Syu’abil Îmân (11/104), “Cabang iman keenam puluh, adalah (memenuhi hak-hak anak dan istri. Yaitu, seorang kepala rumah tangga memenuhi kebutuhan anak dan istrinya, dan mengajari mereka perkara-perkara agama yang mereka butuhkan”.

Membaca Al-Qur`ân, menghafal dan memahaminya merupakan salah satu aspek yang menuntut perhatian besar dari seorang ayah agar dikuasai oleh anak-anak dan istrinya. Karenanya, orang tua pun tertuntut untuk belajar hal-hal yang berhubungan dengan Al-Qur`ân, seperti ilmu tajwid, cara membaca Al-Qur`ân yang baik dan benar, menghafal surat-surat Al-Qur`ân dan pemahaman terhadap ayat-ayatnya.

‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu anhuma pernah berpesan:

عَلَيْكُمْبِالْقُرْآنِ فَتَعَلَّمُوْهُ وَتُعَلِّمُوْهُ أَبْنَاءَكُمْ. فَإِنَّكُمْ تُسْأَلُوْنَ عَنْهُ وَتُجْزَوْنَ. وَكَفَى بِهِ وَاعِظًا لِمَنْ عَقِلَ

“Kalian harus memberi perhatian kepada Al-Qur`ân, dengan mempelajarinya dan mengajarkannya kepada anak-anak kalian. Sesungguhnya kalian akan dimintai pertanggung jawaban tentang itu dan memperoleh balasan karenanya. Cukuplah Al-Qur`an menjadi nasehat bagi orang yang berakal”. [HR. Abu ‘Ubaid dalam Fadhâilu Al-Qur`ân hlm.22]

Untuk memotivasi orang tua agar memandang aspek ini penting bagi dirinya dalam menjalankan fungsi sebagai kepala rumah tangga dan sekaligus menjadikannya ladang investasi pahala,  hadits berikut ini sudah sangat cukup untuk memompa semangat orang tua untuk mendalami ilmu-ilmu Al-Qur`an.

Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ عُثْــمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : ” خـَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Dari ‘Utsmân bin ‘Affân Radhiyallahu anhu, sesungguhnya ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`ân dan mengajarkannya”. [HR. Al-Bukhâri no. 5027].

Hadits ini terarah kepada seluruh umat Islam dan mengabarkan bahwa sebaik-baik mereka adalah orang yang memadukan dua hal, belajar Al-Qur`ân dan mengajarkannya. Belajar dan mengajarkan Al-Qur`ân di sini mencakup mengajarkan bacaan-bacaannya dan pengertian-pengertiannya. [4]

Bila orang tua belum mampu mengajarkan bacaan-bacaan Al-Qur`an kepada anak-anaknya, atau belum mampu untuk mengajarkan hafalan kepada mereka, lalu ia masukkan anak-anak ke TPQ atau halaqah Al-Qur`an di masjid-masjid misalnya, maka ia pun masuk dalam bingkai pengertian hadits di atas. [5]

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata tentang hadits di atas,”Ini adalah sifat-sifat orang-orang Mukmin yang mengikuti para rasul. Mereka adalah orang-orang yang sempurna dalam pribadi mereka, yang menyempurnakan keadaan orang lain. Maka, dengan ini, telah dipadukan antara manfaat bagi pribadi dan manfaat bagi orang lain”. [6]

Kurikulum Tafsir Dasar Keluarga Muslim

Jika seorang anak telah mumayyiz, mulailah pengajaran Al-Qur`ân kepadanya sedikit demi sedikit. Anak mulai diajarkan surat-surat al-mufashshal.[7] Dahulu, ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu memerintahkan anak-anaknya untuk belajar Al-Qur`ân dan berkata, “Bila salah seorang dari kalian akan belajar (Al-Qur`ân), maka hendaknya ia mempelajari surat-surat al-mufashshal terlebih dahulu, karena hal itu akan lebih mudah”.

Imam Al-Bukhâri rahimahullah menguatkan pedoman di atas dengan  berkata, “Bab mengajari anak-anak Al-Qur`ân”. Kemudian beliau membawakan pernyataan Ibnu ‘Abbâs , “Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku berusia 10 tahun dan telah menyelesaikan surat-surat al-muhkam”. Yang dimaksud surat-surat al-muhkam adalah surat-surat al-mufashshal.

Selanjutnya, Khalifah ‘Umar bin Khaththâb z mengarahkan supaya anak-anak ditalqin sebanyak lima ayat lima ayat.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ibnu Bâz rahimahullah telah menyampaikan bimbingan kepada umat Islam terkait level dasar pelajaran Al-Qur`ân yang mesti diperhatikan oleh mereka. Arahan beliau tentang hal tersebut pantas diperhatikan oleh keluarga Muslim dalam rangka menerapkan skala prioritas ketika akan memahami Kitabullah Al-Qur`anulKarim.

Dalamad-Durûsul Muhimmatuli ‘Âmmatil Ummati, pada pelajaran pertama, beliau rahimahullah menyampaikan, “Surat Al-Fâtihah dan Qishârus suwari (surat-surat pendek)”. Beliau mengarahkan  agar dipelajari dan diajarkan surat Al-Fatihah dan surat-surat pendek lainnya yang mudah, yaitu surat An-Nâs hingga surat Al-Zalzalah. Perhatian terhadap surat ini mencakup aspek penguasaan bacaan, hafalan dan pemahaman terhadap surat-surat tersebut.

Ini adalah level dasar yang cukup bagi kalangan pemula dan juga masyarakat awam untuk mereka baca dalamshalat-shalat wajib atau shalat sunnah.

Porsi ‘kurikulum’ dasar dalam belajar mengajarkan Al-Qur`an ini mudah bagi  orang tua dan anak-anak, sehingga akan menyemangati mereka untuk mau belajar dan menghafal. Orang tua akan merasa mudah bila ia tahu kadar yang mesti ia kuasai adalah kadar tersebut. Demikian pula, bila kita katakan kepada anak-anak bahwa surat-surat Al-Qur`an yang mesti engkau perhatikan, hafalkan dan pahami setelah Surat Al-Fatihah adalah dari Surat Al-Zalzalah hingga An-Nâs, maka perhatian mereka akan besar untuk belajar membacanya, menghafalnya dan memahaminya. Bila sudah menyelesaikan level ini, maka kita katakan, engkau telah berhasil menuntaskan apa yang engkau butuhkan dalam shalat-shalatmu.

Setelah itu, anak menempuh level-level berikutnya dalam menghafal dan mempelajari tafsir Al-Qur`ân.

Penutup

Al-Qur`ân adalah karunia besar bagi umat Islam. Semestinya kita semua mencurahkan perhatian besar kita kepadanya, karena merupakan sumber hidayah kita di kehidupan dunia ini, sehingga kita memperoleh keselamatan di dunia dan tidak celaka di akhirat.

Semoga Allâh Azza wa Jallamemudahkan kita untuk mengagungkan Kitab Suci-Nya dengan cara-cara yang telah digariskan oleh syariat. Amin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote

[1]  Adh-Dhiyâ’ul Lâmi’ 1/431.

[2]  Tafsîrul Qurânil ‘Azhîm 1/408.

[3]  Ibid. hlm.315.

[4]  Syarah Ridyadhus Shalihin 2/1238

[5]  Ibid.

[6]  Tafsîrul Qurânil ‘Azhîm 1/67.

[7]  Yaitu Surat Qâf hingga An-Nâs. Inilah pandangan yang dirajihkan oleh Imam Ibnu Katsîr t dalam Tafsirnya.

Dipublikasikan melalui Situs Sunnah dari editor. Sumber asal tulisan

Dapatkan artikel-artikel terbaru dari Situs Sunnah melalui Feed atau Telegram.

Dari Situs yang Sama